Selasa, 02 Juli 2024

Tak Semudah Itu

Sekarang aku mengerti, bahwa yang hilang tak akan pernah kembali.

Mau seberapapun air mata mengalir tujuan terakhir ya memang harus mengikhlaskan.

Meski aku tahu itu tak mudah. 

Kehilangan seseorang yang sangat berarti dalam hidupku. Seseorang yang telah menjadi sandaranku.

Kini aku sendirian, jalan tertatih dengan beban berat dikedua tanganku.

Aku harus bisa

Aku harus kuat

Percaya akan ada keindahan yang sudah menanti di ujung sana.

Rabu, 09 Januari 2019

Aku Kembali

Sudah lama tak merangkai sajak.
Terasa rindu.
Hidupku bergejolak, beberapa bulan terakhir.
Merasa bosan dengan selarik itu melulu.
Namun, tak lantas aku melupakanmu.
Aku hanya rehat sejenak.
Sekarang, aku kembali.

Selasa, 12 Desember 2017

Akhir Ratusan Hari Tanpamu

Setelah ratusan hari kuberhenti memikirkan segala sesuatu tentangmu,
aku pun berhenti menulis segala sesuatu yang berkaitan denganmu.
Bukannya aku kini membenci cerita tentangmu.
Hanya saja sudah lama tak kudengar ceritamu lagi.
Lalu bagaimana aku bisa menuliskannya lagi?
Jangan marah, setidaknya beberapa goresan penaku tentang ratusan hari tanpanya sudah cukup membuat hatimu lega, bukan?
Kau yang tak bisa mengungkapkan perasaanmu yang sesungguhnya telah kuuraikan sedemikian rupa hingga seolah-olah akulah yang menjadi peran utama dalam cerita yang lalu-lalu itu.
Terima kasih telah menjadi inspirasi dalam setiap tulisanku.

Selasa, 05 September 2017

Cinta Seperti Apa?

Cinta.
Mengapa akhirnya selalu jatuh.
Terluka kemudian terkapar.
Belum mati hanya saja sebagian otak tak lagi berfungsi.
Hanya napas yang tersengal-sengal layaknya anak kecil yang terhanyut.
Tolong? Pada siapa seharusnya meneriakkan 'tolong'?
Cinta.
Memang selalu menarik untuk diceritakan namun selalu juga berakhir dengan segores luka.
Adakah cinta yang tak pernah jatuh? Cinta yang selalu mengerti pada siapa ia singgah.
Cinta yang mengerti bagaimana berlaku di tempat yang telah disinggahi.
Sehingga tak membuatnya si pemilik cinta menitikkan air mata.
Ahh, terlalu tinggikah mendambakan cinta yang seperti itu?

Jumat, 12 Agustus 2016

Selamat Berjuang!!!

"Sederhana itu melihat orang tua kita tersenyum."
Itu katamu, jang.
Kata-kata yang sangat sederhana tapi sangat menyentuh.
Memang benar. Tak ada hal lain yang jauh lebih bahagia selain melihat orang tua kita tersenyum.
Aku tahu suatu saat nanti aku harus menuruti kemauan orang tuaku. Meski hatiku menolak tapi demi orang tuaku aku ikhlas.
Begitupun dengan kamu, jang.
Ringankan kakimu tuk melangkah ke jalan lurus yang sudah dipilih orang tuamu dan telah kamu sanggupi.
Yakinlah ada banyak kebaikan di jalan yang kamu tempuh saat ini.
Selamat berjuang menjadi pribadi yang lebih baik lagi.
Semangat kawan. Raih ilmu sebanyak mungkin lalu kamu manfaatkan ilmu itu dengan sebaik-baiknya.

Selasa, 02 Agustus 2016

Sekali Lagi

Bolehkah aku bermimpi?
Tentang harapan yang telah kuselipkan. Coba ketuklah pintu rumahmu sekali lagi.
Tapi masihkah kau ingat jalan pulang?

Minggu, 03 Juli 2016

Melepasmu

Hari ini terakhir aku menangisimu.
Melihatmu kembali tersenyum sudah lebih cukup buatku.
Jika ini jalan yang terbaik untukmu, teruskanlah. Tak usah kau menengok lagi ke belakang.
Di belakang hanya ada masa lalumu yang kelam.
Di belakang hanya ada perempuan bodoh yang sudah melepaskanmu.
Tuan...
Akhirnya aku akan belajar mengikhlaskanmu.
Melepaskanmu untuk bersamanya.
Bersama seseorang yang kau cintai saat ini.
Aku tahu ini tak mudah. Tak semudah membalikan telapak tangan.
Tetapi demi melihatmu bahagia, demi melihat senyummu lagi, aku akan berusaha keras mematikan perasaan ini dan mengikhlaskanmu.

Jumat, 01 Juli 2016

Rumah Lain

Kau sudah memilih mencintainya lalu untuk apa aku hadir kembali di kehidupanmu?
Konyol memang.
Untuk apa aku berharap kau pulang ke rumah yang seharusnya kau singgahi sedangkan sekarang kau sudah memilih tinggal di tempat lain.
Jadi sudah tak ada gunanya lagi kan aku di sini?
Kau tak akan kembali ke rumah lamamu, Tuan.
Silakan pergi jika rumah yang sekarang jauh lebih nyaman untuk kau singgahi.
Tapi satu hal yang harus kau tahu, aku akan tetap tinggal di sini.

Jumat, 24 Juni 2016

RINDU

Tuan...
Sampai kapan aku bosan menulis tentangmu?
Selalu saja ada hal menarik darimu untuk kutulis.
Tuan apa kau merasakan hawa panas sepertiku sekarang ini?
Kalau iya, percayalah ini tak sepanas hatiku saatku melihatmu begitu akrab dengannya.
Tuan apa kau merasakan hawa dingin sepertiku sekarang ini?
Kalau iya, percayalah ini tak sedingin sapamu untukku.
Aku merindukanmu, Tuan.
Aku rindu segala hal tentangmu, lebih tepatnya tentang kita.
Dulu, kita seringkali berbincang tentang langit sore yang selalu kita sebut jingga yang menjingga.
Dulu, kita seringkali berbincang tentang ribuan tetes air yang jatuh dari langit yang selalu kita sebut hujan.
Apa kau masih ingat semua tentang itu?
Tentang kamu yang tiba-tiba datang mengetuk pintu rumahku setelah jingga kembali ke peraduannya.
Tentang aku yang terjebak hujan saat akan bertemu denganmu.
Tuan...
Apakah kau serindu itu padaku?

Minggu, 29 Mei 2016

MELEPASKAN

Selalu ada hikmah di balik kata MELEPASKAN.
Tak usah kau menghakimi seseorang yang sedang berusaha melepaskan.
Kau tak tahu alasan yang sesungguhnya.
Kau tak merasakan bagaimana ia dengan susah payahnya memangkas semua akar yang memang sudah menjalar.
Mungkin kau hanya menilai dari salah satu yang dilepaskan hingga kau menyimpulkan 'jahat' pada yang melepaskan.
Kau tak tahu yang sebenarnya.
Maka dari itu, jangan menjadi orang yang serba tahu di antaranya.
Kau harus tahu satu hal,
Bahwa apapun yang terjadi saat ini adalah kehendak-Nya.

SAHABAT HIDUP

Buat apa mencari yang baru jika yg lama akhirnya terabaikan.
Aku bahagia dengan yang sekarang.
Kalian yang selalu ada.
Untuk yang pernah datang tapi pada akhirnya memilih pergi, silakan.
Tanpa kalian yang sudah memilih pergi, kita akan tetap utuh dan baik-baik saja.
Persahabatan bukan terletak pada kebahagiaan saja tetapi juga pada kesedihan.
Persahabatan bukan mengisi waktu luangnya untuk bersama,
tetapi selalu meluangkan waktu sibuknya untuk bersama.
Terima kasih untuk kalian yang selalu ada dan nemilih untuk tetap tinggal.
@KW��

Senin, 23 Mei 2016

Tidak.
Aku tak berhak marah padamu.
Aku tak berhak cemburu.
Aku yang membuatmu pergi.
Aku yang membiarkanmu beranjak dari hatiku.
Tapi aku tak bisa.
Aku tak bisa melihatmu berdua.
Maafkan aku.

Selasa, 17 Mei 2016

Hai kamu...
Masih punya perasaankah?
Begitu santainya kau berdua dengannya di depan mataku.
Sungguh tak mengenakkan ketika aku harus berpura-pura untuk biasa saja di depan kalian.

Ini perasaan yang tak kuinginkan.
Harus pura-pura tak merindu meski sebenarnya sangat merindukannya.
Haruskah aku yang memulai?
Ahh, tidak.
Begitu menjengkelkan.
Ingin kuteriak tapi untuk apa?
Semuanya sudah selesai.

Rabu, 11 Mei 2016

Hujan.
Karena hujan lebih tahu perihal jarak yang dibentangkan masa silam, yaitu kenangan.

Selasa, 10 Mei 2016

Aku melewati ribuan detik mengenangmu.
Kini aku begitu paham tentang bisik pada sepiku.

Kamis, 28 April 2016

Pagi

Selamat pagi sahabat.
Meskipun pagi ini dingin karena sisa hujan semalam, semoga hati tetap terhangatkan.

Rabu, 13 April 2016

Jangan lagi baca sajakku. Jika kau tak mau terbelenggu. Lupakan saja baitku dan barangkali memang pergi adalah pilihanmu.

Minggu, 10 April 2016

Secangkir kopi lebih nikmat dari sebuah ucapan yang penuh gula. Meski pahit ia tak pernah menjadi tersangka kesedihan.