Hari ini terakhir aku menangisimu.
Melihatmu kembali tersenyum sudah lebih cukup buatku.
Jika ini jalan yang terbaik untukmu, teruskanlah. Tak usah kau menengok lagi ke belakang.
Di belakang hanya ada masa lalumu yang kelam.
Di belakang hanya ada perempuan bodoh yang sudah melepaskanmu.
Tuan...
Akhirnya aku akan belajar mengikhlaskanmu.
Melepaskanmu untuk bersamanya.
Bersama seseorang yang kau cintai saat ini.
Aku tahu ini tak mudah. Tak semudah membalikan telapak tangan.
Tetapi demi melihatmu bahagia, demi melihat senyummu lagi, aku akan berusaha keras mematikan perasaan ini dan mengikhlaskanmu.
Minggu, 03 Juli 2016
Melepasmu
Jumat, 01 Juli 2016
Rumah Lain
Kau sudah memilih mencintainya lalu untuk apa aku hadir kembali di kehidupanmu?
Konyol memang.
Untuk apa aku berharap kau pulang ke rumah yang seharusnya kau singgahi sedangkan sekarang kau sudah memilih tinggal di tempat lain.
Jadi sudah tak ada gunanya lagi kan aku di sini?
Kau tak akan kembali ke rumah lamamu, Tuan.
Silakan pergi jika rumah yang sekarang jauh lebih nyaman untuk kau singgahi.
Tapi satu hal yang harus kau tahu, aku akan tetap tinggal di sini.
Jumat, 24 Juni 2016
RINDU
Tuan...
Sampai kapan aku bosan menulis tentangmu?
Selalu saja ada hal menarik darimu untuk kutulis.
Tuan apa kau merasakan hawa panas sepertiku sekarang ini?
Kalau iya, percayalah ini tak sepanas hatiku saatku melihatmu begitu akrab dengannya.
Tuan apa kau merasakan hawa dingin sepertiku sekarang ini?
Kalau iya, percayalah ini tak sedingin sapamu untukku.
Aku merindukanmu, Tuan.
Aku rindu segala hal tentangmu, lebih tepatnya tentang kita.
Dulu, kita seringkali berbincang tentang langit sore yang selalu kita sebut jingga yang menjingga.
Dulu, kita seringkali berbincang tentang ribuan tetes air yang jatuh dari langit yang selalu kita sebut hujan.
Apa kau masih ingat semua tentang itu?
Tentang kamu yang tiba-tiba datang mengetuk pintu rumahku setelah jingga kembali ke peraduannya.
Tentang aku yang terjebak hujan saat akan bertemu denganmu.
Tuan...
Apakah kau serindu itu padaku?
Minggu, 29 Mei 2016
MELEPASKAN
Selalu ada hikmah di balik kata MELEPASKAN.
Tak usah kau menghakimi seseorang yang sedang berusaha melepaskan.
Kau tak tahu alasan yang sesungguhnya.
Kau tak merasakan bagaimana ia dengan susah payahnya memangkas semua akar yang memang sudah menjalar.
Mungkin kau hanya menilai dari salah satu yang dilepaskan hingga kau menyimpulkan 'jahat' pada yang melepaskan.
Kau tak tahu yang sebenarnya.
Maka dari itu, jangan menjadi orang yang serba tahu di antaranya.
Kau harus tahu satu hal,
Bahwa apapun yang terjadi saat ini adalah kehendak-Nya.
SAHABAT HIDUP
Buat apa mencari yang baru jika yg lama akhirnya terabaikan.
Aku bahagia dengan yang sekarang.
Kalian yang selalu ada.
Untuk yang pernah datang tapi pada akhirnya memilih pergi, silakan.
Tanpa kalian yang sudah memilih pergi, kita akan tetap utuh dan baik-baik saja.
Persahabatan bukan terletak pada kebahagiaan saja tetapi juga pada kesedihan.
Persahabatan bukan mengisi waktu luangnya untuk bersama,
tetapi selalu meluangkan waktu sibuknya untuk bersama.
Terima kasih untuk kalian yang selalu ada dan nemilih untuk tetap tinggal.
@KW